Olahraga Jadi Gaya Hidup Baru: Padel, Yoga, dan Lari Malam Kuasai Perkotaan

Olahraga tidak lagi sekedar aktivitas fisik tetapi sudah jadi gaya hidup masyarakat urban. Terlihat dari tingginya minat terhadap padel, yoga, dan komunitas lari di masyarakat. Media menyorot fenomena ini sebagai pergeseran pola masyarakat kota.


Suasana Lapangan Gasibu yang dipadati warga untuk lari malam hari (Foto: Bima Bagaskara/detik Jabar)

Laporan DetikSport pada 24 September 2025 mencatat sejumlah kegiatan lifestyle olahraga yang ramai digelar, mulai dari Yoga in the City di pusat kota Jakarta, peluncuran lapangan East Kemang Padel, hingga Benteng Run – Color Fun Festival yang menarik ribuan peserta.


Menurut pengamat olahraga perkotaan, Andi Wicaksono dari Universitas Negeri Jakarta, tren ini menegaskan olahraga sebagai bagian dari identitas sosial. “Generasi muda tidak hanya melihat olahraga sebagai cara menjaga kebugaran, tetapi juga sebagai sarana bersosialisasi dan membangun citra diri. Sportstyle menjadi pernyataan gaya hidup,” ujarnya saat dihubungi, Jumat (26/9/2025).


Yoga tidak lagi eksklusif di studio tertutup. Acara “Yoga in the City” menghadirkan pengalaman yoga di ruang terbuka. Salah satu peserta, Rina, menyebut pengalaman ini lebih dari sekadar olahraga. “Rasanya berbeda. Kami bisa berolahraga, bertemu teman baru, sekaligus menikmati suasana kota. Ini jauh lebih menyenangkan daripada olahraga sendirian di rumah,” kata Rina.


Padel mulai mencuri perhatian masyarakat kelas atas. Kehadiran East Kemang Padel menandai semakin luasnya variasi olahraga rekreasi di Jakarta.


Pengelola East Kemang Padel, Bima Pratama, menyatakan fasilitas ini memang dirancang untuk menjawab kebutuhan gaya hidup baru. “Padel memberi pengalaman berbeda. Permainan lebih santai dibanding tenis, sehingga cocok untuk rekreasi sekaligus olahraga ringan. Kami melihat minat yang tinggi sejak pembukaan,” ujarnya.


Event lari bertema juga semakin digemari. Benteng Run – Color Fun Festival menjadi contoh bagaimana olahraga dapat bertransformasi menjadi hiburan keluarga. Ribuan peserta ikut serta bukan untuk mengejar prestasi, melainkan mencari pengalaman rekreatif.


Dian, anggota komunitas lari di Jakarta Barat, menilai bahwa kegiatan seperti ini memberi semangat baru. “Kami tidak hanya berlari, tetapi juga menikmati musik, warna, dan kebersamaan. Inilah yang membuat olahraga terasa lebih hidup,” tutur Dian.

Meski tren ini positif, ada tantangan yang perlu diatasi. Tidak semua wilayah perkotaan memiliki fasilitas terbuka yang memadai. Selain itu, komersialisasi event dan fasilitas berpotensi membuat olahraga bergaya hidup hanya bisa dinikmati kalangan tertentu. Andi menambahkan, konsistensi masyarakat juga perlu diperhatikan. “Olahraga berbasis lifestyle berisiko hanya menjadi tren sesaat. Penting bagi penyelenggara untuk mendorong keterlibatan jangka panjang,” jelasnya.


Penulis: Ahmad Syahbani
Editor: Fadhilatul Dewi Anggraeni


Posting Komentar (0)
Lebih baru Lebih lama