Rapor Merah Fanatisme Sepak Bola di Kota Pelajar

Selain dikenal dengan wisata dan julukannya sebagai kota pelajar, Yogyakarta menjadi rumah untuk klub-klub sepak bola besar. Persatuan Sepak Bola Indonesia Mataram (PSIM) Yogyakarta, Persatuan Sepak Bola Sleman (PSS) Sleman, dan Persatuan Sepakbola Indonesia Bantul (Persiba) Bantul. Adapula klub kecil yang tersebar di berbagai wilayah Yogyakarta.


Rivalitas paling ikonik datang dari pertemuan PSIM Yogyakarta dan PSS Sleman di mana kedua klub pernah bersama-sama berlaga di kasta tertinggi persepakbolaan nasional. 


Pertandingan antara PSIM Jogja melawan PSS Sleman di Stadion Sultan Agung Bantul, Kamis (26/7/2018) sore.(Sumber: Harian Jogja/Jumali)

Klub sepak bola di Yogyakarta ikonik dengan pendukung yang loyal. Para suporter tidak pernah absen dalam memberi dukungan dan hadir di stadion untuk menyanyikan chant. Brajamusti – julukan suporter PSIM Yogyakarta – dan Brigata Curva Sud – julukan suporter PSS Sleman. Merupakan kelompok suporter yang memiliki sejarah panjang dan loyalitas tinggi kepada klub favoritnya. 


Pertandingan sepak bola tidak hanya berakhir setelah peluit panjang wasit di menit 90. Di luar stadion, euforia sudah menunggu merayakan klubnya yang menang. Sementara pendukung yang klubnya kalah, hanya melihat perayaan itu. Maka tak heran, jika pasti ada oknum yang emosinya tersulut. 


Di balik dari loyalitas dan dukungan fans sepak bola terdapat harga diri yang dipertaruhkan oleh masing-masing klub. Apalagi jika klub tersebut kalah di kandang sendiri, peluang bentrok semakin tinggi. Tidak hanya jika klub mengalami kekalahan, jika klub favorit menjadi pemenang. Terkadang kelompok pendukung, memiliki cara ekstrem dalam merayakan bahkan dapat mengganggu kenyamanan masyarakat sekitar. 


Besarnya dukungan dan kesetiaan fans tidak tumbuh tanpa alasan. Terdapat banyak faktor yang bisa menumbuhkan rasa setia tersebut, bisa terjadi karena faktor geografis, warisan keluarga, dan faktor-faktor lainnya. 


Namun, fanatisme di stadion tidak berhenti, ia keluar menyentuh ruang-ruang publik. Masyarakat menganggap lumrah hal tersebut, sebagian lainnya ada yang menganggap positif, dan sisanya menganggap negatif. Di sisi lain, ada kewaspadaan yang timbul jika akan terjadi pertandingan sepak bola. Mereka mengantisipasi sendiri keamanan mereka, dengan menghindari beberapa ruas jalan yang diindikasi tidak aman pasca pertandingan. 


Catatan Insiden Bentrokan Suporter Skala Menengah-Besar DIY dan Nasional Tahun 2014-2023

Berdasarkan kompilasi media massa dan laporan data NGO pengamat sepak bola, rata-rata bentrokan suporter sepak bola di Daerah Istimewa berada di atas rata-rata nasional. Ini menunjukkan bahwa kasus fanatisme dan konflik sepak bola sporadis, tetapi sudah menjadi fenomena yang selalu ada tiap tahunnya.


Sebelum pandemi tahun 2017-2019, tingkat bentrokan suporter di DIY mengalami kenaikan dan selisihnya dengan rata-rata nasional semakin melebar. Tetapi, semenjak pandemi terjadi penurunan drastis di DIY. Bukan tanpa alasan, hal tersebut terjadi karena adanya pelarangan pertandingan untuk liga sepak bola di Indonesia, aktivitas dan mobilisasi masyarakat dibatasi. 


Akan tetapi, pada tahun 2022-2023 mengalami kenaikan. Terutama di tahun 2022, angka bentrokan suporter mencapai 35. Data tersebut diakibatkan akumulasi emosional pendukung yang sebelumnya pertandingan sepak bola secara total diberhentikan kemudian diadakan kembali.


Secara garis besar, dapat dinilai bahwa Yogyakarta merupakan kota yang sering terjadi bentrokan suporter dan mengindikasikan ketidakamanan daerahnya karena tingginya fanatisme suporter.


Sebuah bus rombongan suporter asal Bandung dengan kaca pecah diamankan aparat kepolisian di TKP Ngabean, Kota Jogja, seusai kericuhan , Minggu (24/8/2025) malam. (Sumber: Istimewa/Polda DIY)

Kejadian bentrok suporter yang baru saja terjadi adalah setelah kontra PSIM Yogyakarta dengan Persib Bandung (24/8/2025). Bentrokan terjadi di beberapa tempat area Stasiun Lempuyangan, area Parkir Ngabean, Malioboro, dan kawasan Polsek Gamping.


Dilansir dari Tempo, bentrokan terjadi karena salah satu suporter PSIM tersulut emosi setelah bus suporter Persib Bandung sengaja menabrak para suporter lain di jalanan. 


Pelaksana tugas Kepala Seksi Humas Polresta Yogyakarta, Inspektur Satu Gandung Harjunadi, mengungkapan para suporter sudah dievakuasi di kawasan (Markas Komando) Mako Brimob Baciro dan Polresta Yogyakarta.


“Saat ini (Senin), sebanyak 177 suporter telah dipulangkan menggunakan 3 bus, terdiri dari 2 bus carteran dan 1 bus dari Persib Bandung,” jelas Gandung kepada Tempo. 

Bentrokan suporter di Yogyakarta pernah juga memakan korban jiwa seorang remaja, Muhammad Iqbal Setyawan (16), saat itu ia usai menyaksikan pertandingan PSIM Yogyakarta melawan PSS Sleman (26/7/2018) di Stadion Sultan Agung, Bantul.


Mapolres Bantul, menetapkan 6 tersangka yang merupakan pendukung PSIM, Kompol Mariska Fandi Susanto, Wakapolres Bantul, mengungkapkan motifnya ialah karena pelaku terlalu fanatis terhadap klub favoritnya. 


“Antara korban dan pelaku tidak saling mengenal, pelaku melakukan sweeping dan menemukan atribut PSS Sleman pada korban. Akhirnya mereka spontan mengeroyok korban,” jelas Fandi dikutip detiknews saat jumpa pers (9/8/2018)

Pengamat sepak bola dari Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, Fajar Junaedi, memberikan pendapat kritisnya mengenai tingginya bentrokan pendukung sepak bola di Indonesia. Menurutnya, aparat gagal melakukan penanganan konflik. 


Dalam pandangannya, Fajar menilai bahwa pendekatan keamanan yang selama ini diterapkan masih bersifat reaktif dan simptomatik, sehingga gagal menyentuh akar permasalahan yang sesungguhnya. Ia secara khusus menyoroti penggunaan metode represif di lapangan, mulai dari penembakan gas air mata hingga pengerahan kendaraan taktis lapis baja. 


Fajar berpendapat bahwa meskipun taktik keras tersebut mungkin efektif membubarkan massa dalam jangka pendek, cara itu justru berisiko memicu dendam baru dan memperkuat solidaritas perlawanan massa terhadap aparat kepolisian.


Perspektif Suporter

Raden Arif, suporter PSIM Yogyakarta, bentrokan suporter diakibatkan harga diri klub itu sendiri. “Yang namanya suporter nggak jauh dari chaos. Karena budaya suporter dekat dengan minuman (minuman keras) dan banyak kaum pekerja, jadi ada pengaruhnya,” ucap Raden saat diwawancara tim lensaraganews, Minggu (19/10/2025).


Kemudian ia kembali mengingat laga PSIM Yogyakarta kontra Persis Solo tahun 2019 di liga 2 Indonesia, yang berakhir dengan kekalahan PSIM dan bentrokan antar suporter. Diduga bentrokan dimulai dengan oknum suporter PSIM yang tidak terima karena pemain Persis Solo yang mengulur waktu jelang akhir pertandingan. 


Raden menambahkan titik-titik yang rawan bentrok usai pertandingan, “Titik rawan bentrok di ringroad barat, di depan Amplaz, dan di UIN karena itu perbatasan antara suporter hijau (PSS Sleman) dengan biru (PSIM Yogyakarta),” ungkap Raden.


Sementara, Andika Mulawarman, suporter PSS Sleman, juga menyebutkan titik rawan bentrokan antar suporter di Sleman. 


“Titik rawan di Sleman, di selatan jalan Wonosari. Itu titik paling krusial lah, sebutannya “jalur Gaza,” jelas Andika saat ditemui tim lensaraganews, Selasa (25/11/2025).


Andika menambahkan, pencegahan dari pihak aparat selama pertandingan belum efektif untuk menghindari bentrokan. “Pencegahan pasti ada, tapi akhirnya kita kembali lagi. Yang selalu mencegah kan aparat, sedangkan aparat itu kan musuh suporter,”.


Jejak Hitam Fanatisme Sepak Bola Yogyakarta


Kedua klub besar, PSIM Yogyakarta dan PSS Sleman, memiliki sejarah panjang yang bertahun-tahun mengikat pendukung mereka bersatu. Maka tak heran, jika loyalitas dan kesetiaan tumbuh diantara mereka dengan organik.


Loyalitas suporter terhadap klub kebanggaannya terbentuk dari latar belakang yang berbeda-beda. Berdasarkan hasil wawancara dengan dua narasumber dari kubu yang berbeda, ditemukan bahwa faktor lingkungan keluarga dan domisili tempat tinggal menjadi alasan utama seseorang memutuskan untuk mendukung sebuah tim.

Raden bersama temannya dalam pertandingan Final Liga 2 pertandingan PSIM kontra Bhayangkara FC di Stadion Manahan, solo (26 Februari 2025). (dokumentasi/pribadi Raden Arif)


Raden, pendukung PSIM Yogyakarta, mengungkapkan bahwa ia menjadi suporter karena pengaruh keluarganya yang sudah turun-temurun mendukung tim tersebut. Awalnya dari simbah, terus turun ke bapak, dari bapak ke mas, lalu ke saya,” ungkap Raden. Ia mengaku sudah mulai menyukai PSIM sejak masih duduk di bangku sekolah dasar.


Sementara itu, Andika memiliki alasan yang berbeda. Sebagai pendukung PSS Sleman, ia merasa dukungan yang ia berikan didasari oleh faktor wilayah tempat tinggalnya. Karena panggilan hati dan berdomisili di Sleman. Jadi nggak ada alasan untuk nggak mendukung PSS Sleman,” ujarnya.


Terkait pemahaman sejarah klub, Andika mengaku tidak terlalu mendalami masa lalu timnya secara detail, namun ia aktif mengikuti perkembangan tim dalam beberapa tahun terakhir. “PSS berdiri 20 Mei 1976, sejarah kurang tahu tapi 5 tahun ini saya cukup mengikuti bagaimana PSS Sleman berjalan baik dari manajemen hingga hasil di lapangan,” tambah Andika.


Perbedaan latar belakang Raden dan Andika ini menunjukkan bahwa setiap individu memiliki alasan personal tersendiri untuk menjadi loyal, baik itu karena tradisi keluarga maupun sekadar identitas kedaerahan.


Antara Perlawanan dan Normalisasi

Dampak konflik suporter di Yogyakarta telah menciptakan polarisasi respons di tengah masyarakat: ada yang melawan dengan keras, ada pula yang mulai memaklumi kekerasan tersebut sebagai hal lumrah.


Bentuk perlawanan warga paling nyata terekam dalam insiden di Gejayan pada Juli 2022. Peristiwa ini bermula ketika konvoi suporter Persis Solo melintasi pusat kota Yogyakarta dan terlibat provokasi dengan warga lokal. Masyarakat yang merasa terganggu dengan aksi sweeping kendaraan dan arogansi jalanan tidak lagi tinggal diam. Warga sipil, bersama mahasiswa dan pengemudi ojek daring, turun ke jalan untuk memukul mundur rombongan suporter. Insiden ini menjadi preseden buruk bahwa ketika aparat dianggap gagal memberikan rasa aman, masyarakat sipil siap mengambil alih fungsi keamanan dengan cara main hakim sendiri (vigilantisme).


Di sisi lain, terdapat fenomena sosiologis yang tak kalah mengkhawatirkan di kantong-kantong basis suporter, yakni normalisasi kekerasan. Warga yang tinggal di lingkar utama stadion justru cenderung permisif terhadap bentrokan.


Dalam wawancara dengan warga sekitar Stadion Maguwoharjo, Dwi Krisdianta dan Diki Pratama, terungkap bahwa kekerasan dianggap sebagai konsekuensi wajar dari rivalitas.


"Namanya bentrokan mayoritas hampir terjadi jika sudah ada kata musuh," ujar Diki. Sikap defensif juga muncul, di mana warga lokal cenderung membela kelompok suporter tuan rumah dan melimpahkan kesalahan kepada pihak lawan.


"Sebetulnya itu kan yang bikin bentrok dari pihak tim lawan... Kalau PSS Sleman selama ini biasa-biasa saja," tambah Dwi.


Dua respon bertolak belakang ini menunjukkan bahwa tatanan sosial Yogyakarta sedang tergerus. Bahaya latennya bukan hanya pada kerusakan fasilitas, melainkan pada pudarnya sensitivitas kemanusiaan warga yang mulai terbiasa hidup berdampingan dengan ancaman kekerasan.


Mengembalikan Pesta yang Hilang

Di tengah hiruk-pikuk konflik yang tak kunjung usai, suara akademisi hadir untuk menarik kita kembali pada esensi dasar olahraga ini. Fajar Junaedi, memberikan catatan reflektif bahwa kekacauan yang terjadi berulang kali di Yogyakarta adalah indikator kegagalan kolektif dalam memaknai sepak bola.


“Sepak bola sejatinya didesain sebagai sebuah festival atau perayaan kebudayaan. Stadion adalah ruang publik tempat masyarakat berkumpul untuk merayakan identitas dan bersuka cita, bukan arena pertempuran yang menuntut pengorbanan darah.” tegas Fajar.


Namun, realitas di lapangan menunjukkan jurang pemisah yang lebar antara kondisi ideal tersebut dengan fakta yang ada. Fajar menyoroti bahwa pendekatan keamanan yang selama ini diterapkan, terbukti tidak efektif menyentuh akar masalah. Penanganan yang bersifat represif dan rekonsiliasi yang hanya berhenti di level seremonial elit suporter, gagal memadamkan bara dendam di akar rumput.

Penulis: Fadhilatul Dewi & Haidar Aufa 

Editor: Galih Abrury

Posting Komentar (0)
Lebih baru Lebih lama