Rizki Juniansyah, lifter muda Indonesia, mencuri perhatian setelah mencatatkan rekor nasional clean and jerk 205 kg pada seleksi nasional Perguruan Besar Perkumpulan Angkat Besi Indonesia (PB PABSI) kelas 79 kg putra. Sebelumnya, standar dunia clean and jerk adalah 202 kg.
| Rizki Juniansyah dan Olimpiade Paris: Kisah Emas yang Terukir dari Cobaan. (Foto: NOC Indonesia) |
Federasi Angkat Besi Internasional (IWF) menerapkan kategori berat badan baru sejak 1 Juni 2025. Sebelumnya, Rizki bertanding di kelas 73 kg dan 81 kg. Dalam wawancara dengan ANTARA Jatim, Rizki mengatakan, “Peralihan kelas berat badan bukan perkara mudah karena proses menaikkan berat badan berbeda dengan menurunkan.”
Rizki menunjukkan performa yang konsisten di kejuaraan angkat besi Asia 2025 di Jiangshan, China. Melansir dari Kompas, ia meraih dua medali perak melalui snatch 161 kg dan total angkatan 358 kg, serta medali perunggu dengan clean and jerk 197 kg. Meski belum meraih emas, hasil ini menjadi tolok ukur penting sebelum menghadapi ajang internasional berikutnya.
Dalam sesi latihan di Pelatnas Kwini, Rizki menegaskan bahwa ia tidak mengejar medali semata. “Latihan tetap jalan seperti biasa, tapi tidak ada target khusus. Fokus saya mengejar progres angkatan,” ujarnya dalam kutipan yang dilaporkan ANTARA Jatim.
Pelatih kepala, Triyatno, menambahkan bahwa target utama Rizki adalah memperbaiki teknik dan meningkatkan kekuatan. “Saat ini kami fokus pada progres angkatan, bukan hasil akhir. Itu penting agar Rizki bisa tampil maksimal di level dunia,” kata Triyatno.
Dengan catatan rekor 205 kg, Rizki berpeluang menembus level dunia. Menurut laporan ANTARA, pencapaian ini akan menjadi modal besar menghadapi Kejuaraan Dunia Angkat Besi 2025 di Forde, Norwegia, pada 3–12 Oktober mendatang.Namun, persaingan diprediksi ketat. Kompas mencatat nama-nama lifter Asia seperti Lou Chongyang (China) dan Son Hyeon-ho (Korea Selatan) sebagai pesaing utama di kelas 79 kg. Meski menghadapi perubahan kelas dan persaingan ketat, Rizki tetap menunjukkan mental tangguh. Ia tidak menjadikan transisi sebagai hambatan, melainkan tantangan baru. “Adaptasi memang berat, tapi ini bagian dari proses,” kata Rizki, dikutip dari ANTARA News.