Gunung Kidul, LensaRaga – Bagi Muhammad Zabir, dukungan orang tua menjadi kunci dalam karirnya. Atlet basket U-18 ini merasa konsistensi dan keberanian yang ia miliki lahir dari dukungan tersebut.
Menurutnya, tantangan utama bukan sekadar lawan saat pertandingan, tetapi juga menjaga kedisiplinan. Zabir memastikan jadwal kuliah dan latihan berjalan seimbang. Lelah dan kalah justru menjadi proses yang bermakna agar tidak cepat puas dan selalu mengasah diri.
| Zabir melakukan tembakan 3 angka pada pertandingan final basket U-18 PORDA DIY 2025 kontra tim jogja kota di Stadion Handayani Gunung Kidul, 16 September 2025. (Dokumentasi/TripleDouble) |
Sebagai seorang atlet Zabir memiliki persiapan yang cukup unik. Menjelang pertandingan, ia menyempatkan untuk minum kopi satu hingga dua jam sebelum tip-off – lemparan pertama awal pertandingan. Rutinitas kecil ini berguna untuk menjaga fokus dan performa di lapangan. Ketika ia jenuh, Zabir memilih bermain game online untuk beristirahat.
Final Porda DIY 2025, Selasa (16/9/2025) menjadi momen berkesan baginya. Terjadi saat tim Sleman menekuk tim kota Jogja dan meraih emas. Ia menganggap momen itu sebagai prestasi terbesarnya.
Bagi Zabir, dukungan keluarga, kedisiplinan, dan konsistensi adalah fondasi yang membuatnya terus percaya diri. Tantangan yang dihadapinya justru menjadi bahan bakar untuk melangkah lebih jauh di dunia basket.
Penulis: Haidar Aufa Afham Editor: Fadhilatul Dewi Anggraeni